
Tekanan ekonomi dan meningkatnya kecemasan sosial menjadi salah satu temuan utama dalam FWD Consumer Outlook Survey, sebuah penelitian yang dilakukan oleh FWD Group bersama Ipsos Indonesia. Studi ini mengkaji kondisi kesejahteraan finansial, sumber kekhawatiran, serta kesenjangan perlindungan yang dihadapi kelompok kelas menengah Asia pada berbagai generasi dan tahap kehidupan.
Dalam sesi diskusi, Associate Director Ipsos Indonesia, Oscar Simamora, menjelaskan bahwa kelas menengah Indonesia memiliki peran penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, di balik peran tersebut, setiap generasi menghadapi tekanan finansial maupun psikologis yang berbeda-beda.
Menurut Oscar, mulai dari Generasi Z, Milenial atau Generasi Y, hingga Generasi X, masing-masing memiliki sumber kecemasan yang khas. Pemahaman atas perbedaan ini dinilai penting, baik bagi penyedia layanan keuangan maupun masyarakat secara umum, agar strategi perlindungan yang disusun dapat lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok usia.
Pada Generasi Z, perhatian utama tertuju pada kemandirian finansial dan kesehatan mental. Oscar menilai kelompok usia ini cenderung mengalami tingkat stres yang relatif lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, mereka membutuhkan bentuk perlindungan yang mampu memberikan rasa aman, termasuk jaminan keberlanjutan pendapatan ketika menghadapi kondisi yang tidak menentu, seperti kehilangan pekerjaan atau perubahan situasi ekonomi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bagi generasi muda, konsep kesehatan kini tidak lagi terbatas pada aspek fisik semata. Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, serta beban psikologis menjadi faktor yang semakin memengaruhi kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, kebutuhan akan perlindungan kesehatan mental mulai menjadi perhatian yang semakin relevan.
Berbeda dengan Generasi Z, Generasi Y atau Milenial menghadapi tantangan yang lebih kompleks karena berada pada fase kehidupan yang sarat dengan tanggung jawab ganda. Kelompok ini tidak hanya harus memenuhi kebutuhan keluarga inti, tetapi juga sering kali masih memiliki tanggung jawab terhadap orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Pada saat yang sama, mereka juga dituntut untuk mulai mempersiapkan masa pensiun.
Dalam kondisi tersebut, Milenial membutuhkan strategi keuangan yang mampu memberikan perlindungan menyeluruh, baik untuk kebutuhan saat ini maupun untuk keamanan finansial jangka panjang. Dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki, kemampuan menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dan perencanaan masa depan menjadi tantangan utama generasi ini.
Sementara itu, bagi Generasi X, perhatian lebih banyak tertuju pada pengelolaan kekayaan. Pada fase usia yang lebih matang, kekhawatiran utama kelompok ini berkaitan dengan potensi menurunnya nilai aset akibat inflasi. Oleh karena itu, pendekatan pengelolaan keuangan yang lebih berorientasi pada investasi menjadi semakin penting.
Oscar menilai bahwa Generasi X sebaiknya tidak hanya bergantung pada simpanan tunai. Diversifikasi aset melalui instrumen investasi dipandang sebagai langkah yang lebih efektif untuk menjaga nilai kekayaan agar tetap terpelihara dalam jangka panjang.
Sebelumnya, hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat kelas menengah Indonesia saat ini cenderung berada dalam posisi yang lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Sekitar 66 persen responden mengaku mengalami stres, merasa khawatir, atau hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.000 responden kelas menengah Indonesia berusia 21 hingga 65 tahun melalui survei daring yang dilakukan pada Oktober 2025.
Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, serta tingginya biaya layanan kesehatan. Faktor-faktor tersebut mendorong masyarakat untuk lebih fokus menjaga kestabilan finansial dibanding mengejar pertumbuhan kekayaan.
Menurut Rudy, masyarakat Indonesia kini menghadapi tekanan finansial yang semakin kompleks. Meskipun ada kecenderungan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, masih banyak individu yang belum sepenuhnya siap menghadapi konsekuensi finansial dari meningkatnya harapan hidup dan naiknya biaya kesehatan di masa depan.
Ia menambahkan bahwa survei ini juga menelaah perbedaan perilaku dan kebutuhan keuangan antar generasi, sekaligus melihat bagaimana masyarakat mempersiapkan diri menghadapi berbagai risiko ekonomi pada masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga responden merasa berada di bawah tekanan finansial. Kondisi tersebut terutama dipicu oleh kenaikan biaya hidup, ketidakstabilan pendapatan, serta mahalnya biaya kesehatan.
Melalui FWD Consumer Outlook Survey, FWD ingin memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi, kebutuhan, serta kesenjangan perlindungan yang dihadapi kelas menengah Indonesia. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi industri jasa keuangan dalam merancang solusi yang lebih relevan, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di setiap tahap kehidupan.


